JurnalLBH LP-KPK'N

Main Menu

  • Home
  • Hukum
  • Daerah
  • Nasional
  • Infrastruktur
  • TNI-POLRI
  • Pemerintahan

logo

Header Banner

JurnalLBH LP-KPK'N

  • Home
  • Hukum
  • Daerah
  • Nasional
  • Infrastruktur
  • TNI-POLRI
  • Pemerintahan
  • SMSI Apresiasi Pemkot Cilegon: Dari Kesunyian Wartawan Lahir Monumen Kebanggaan Indonesia

  • Agenda Penyelesaian Sengketa Informasi Publik Desa Tanah Merah Kembali Ditunda, Ini Alasannya

  • Hadapi Musim Hujan, Gubernur Andra Soni Imbau Warga Pantau Informasi Resmi BMKG dan Pastikan Wisata Banten Aman

  • Diskominfo Kabupaten Serang Edukasi Keamanan Informasi Data Pribadi Bagi ASN

  • FaktaKini.id Rayakan Ulang Tahun ke-2: Cukup Sederhana dan Terkesan

Sejarah & Wisata Religi
Home›Sejarah & Wisata Religi›Sejarah Pusaka Condong Campur Empat Tombak Milik Kerajaan Majapahit

Sejarah Pusaka Condong Campur Empat Tombak Milik Kerajaan Majapahit

By Redaksi
Februari 5, 2022
503
0

Sejarah Pusaka Condong Campur empat tombak milik Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan salah satu Kerajaan tersohor di Nusantara, pusaka dan peninggalannya tak bisa begitu saja dilupakan,karena sejarah telah mencatat ada begitu banyak pusaka yang tinggalkan di zaman Kerajaan Majapahit.

Kerajaan kuat yang memiliki seorang pati hebat bernama maha Pati Gajah Mada ini telah menorekan banyak perjuangan hingga menjadi nusantara seperti sekarang ini, karena Maha Pati Gajah Madalah bagian pulau di Negeri ini menjadi Indonesia.

Membicarakan tentang Kerajaan Majapahit tentu tak terlepas dari pusaka- pusakanya yang sakti. Sejarah Pusaka Condong Campur Empat Tombak Milik Kerajaan Majapahit.

Adapun pusaka Majapahit yang paling ampuh adalah Keris pusakanya bernama Keris Condong Campur dan ke 4 (empat ) tombak patakannya.

Baca juga: Legenda Sanghyang Sirah Terletak Di Ujung Kulon Pulau Jawa

Keris Condong Campur

Sejarah Pusaka Condong Campur milik kerajaan Majapahit. Condong campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda, keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kiai Condong Campur.

Keris ini merupakan salah satu dhapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.

Condong campur merupakan suatu berlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan, Condong berarti miring yang mengarah kesuatu titik yang berarti keinginan, sedangkan Campur menjadi satu atau perpaduan, dengan demikian Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu yaitu perpecahan wilayah yang kemudian di namakan Nusantara.

Berikut Nama – Nama Tombak Pakata Ampuh Milik Kerjaan Majapahit

1. Tombak Pataka Sang Dwija Naga Nareswara

Tombak pusaka majapahit yang ampuh pertama adalah pataka Sang Dwija Naga Nareswara.Pusaka sakti dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk tombak pataka Nagari seperti perwujudan dari Naga kembar penjaga tirta amerta yang terbuat dari bahan tembaga.

Tombak pataka ini dibuat di era Kerajaan Singosari pada abad XII sampai abad XIII masehi, kemudian pusaka ini diwariskan oleh Kerajaan Majapahit. Pusaka ini merupakan satu-satunya senjata Singosari yang mampu diselamatkan Sang Rama Wijaya pada saat runtuhnya Kerajaan Singosari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang.

Tombak patakanya dikuasai dan berhasil direbut kembali oleh Raja Drawakarta dan dibawa kekerajaan gelang-gelang. Pataka inilah pertama kali dipasang bendera Kerajaan Majapahit ketika dipoklamatirkan dihutan taring.

Setelah serbuaan pasukan tartar dan pasukan brawijaya atas kerajaan gelang-gelang. Bederah tersebut bernama gulah kelapa atau merah putih yang sekarang kita warisi benderah Sang Saka Merah Putih.

2. Tombak Pataka Sanghyang Baruna

Pusaka majapahit yang paling ampuh selanjutnya adalah tombak pataka Sanghyang baruna dengan 2 (dua) mata kembar diatas Kepala dan ekor Naga. Pusaka tombak pataka ini terbuat dari bahan tembaga pada jaman Kerajaan Singhasari abad XII hingga abad XIII Masehi, dan diwarisi oleh Kerajaan Majapahit.

Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang di atas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama: “Getih-Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada laut Majapahit.
Bendera ini juga dipakai oleh TNI AL pada kapal-kapal perang yang berada di perairan Internasional.

Pataka ini pertama kali dibawa oleh pasukan ekspedisi Pamalayu dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singosari.

3. Pataka Sanghyang Naga Amawabhumi

Pataka ini berbentuk tombak Naga dengan bahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sanghyang Naga Amawabhumi atau berarti Naga penjaga keadilan. Mereka yang memiliki Pataka ini, berarti harus mempunyai sikap seperti dalam Mukadimah Kutara Manawa.

Dalam Mukadimah Kutara Manawa atau undang-undang zaman Majapahit ditegaskan bahwa seorang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah luput dari tindakan. Itulah kewajiban dari Sang Amawabhumi jika mengharapkan kerahayuan Negara nya.

Pataka ini juga direbut kembali dan diselamatkan oleh Sangrama Wijaya saat Singosari diserang.

4. Pataka Sang Padmanaba Wiranagari

Tombak pataka nagari kerajaan majapahit ke 4 (empat) adalah Pataka Sang Padmanaba Wiranagari. Pada kain yang terbuat dari bahan tembaga dan bermakna Sang Padmanaba Wiranagari atau teratai kemuliaan pembelaan Negeri.

Sama seperti halnya pataka-pataka sebelumnya, Pataka ini juga dibuat pada abad XII sampai XIII Masehi. Pada Pataka inilah, pertama kali Kerajaan Majapahit memasang lambang kerajaan.

Pataka ini merupakan pataka yang sebelumnya dibawa oleh Jayakatwang Kediri namun berhasil direbut kembali oleh para Senopati Singasari pada ekspedisi pamalayu di Kerajaan Jayakatwang Kediri.

Sebelumnya, para pasukan singasari merasa terluka dan sakit hati karena saat kerajaan diruntuhkan oleh Jayakatwang, mereka saat itu tidak berada di tempat. Sehingga tidak dapat membela Negara.

Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada Raden Wijaya sempat tidak diizinkan. Karena ia masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya, Raja Jayakatwang adalah sepupu Sri Krtanegara yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Raden Wijaya melalui kakeknya Narasingamurti.

Dalam Ekspedisi Pamalayu, para Senopati berhasil merebut kembali 5 panji Pataka. Peninggalan Singasari yang ada di Daha, 5 pataka Singasari tersebut, akhirnya dibawa pulang yang itu juga merupakan peneguhan sikap kerabat di wilayah Daha bahwa Kerajaan Majapahit adalah bentuk Singosari yang sah dan penerua Raja Sawangsa.

Cerita Pusaka Keris dan Tombak

Keris pusaka ampuh dan tombak ampuh.Tentunya bagi masyarakat modern, cerita tentang keris ampuh dan tobak menjadi sulit masuk logika. Bagaimana mungkin keris dan tombak itu ampuh serta sakti mandraguna?

Memang cerita Keris Kiyai condong campur dan ke 4 (empat) tombak bisa menjadi sebuah pelambang kejadian yang saat itu terjadi. Sehingga kita bisa mengetahui kondisi yang dialami sebuah generasi.

 

Hanya menambah pengetahuan

Author: A Iwan Dahlani

Previous Article

Tindak Pidana Pemalsuan Dokumen Menurut Undang-undang

Next Article

Inilah Bentuk Gugatan dalam Praperadilan di Indonesia

Redaksi

Related articles More from author

  • Sejarah & Wisata Religi

    Legenda Sanghyang Sirah Terletak Di Ujung Kulon Pulau Jawa

    Januari 28, 2022
    By Redaksi
  • Sejarah & Wisata Religi

    Juru Kunci PC Menunggu Sikap Bijak Camat Kronjo Menindak Lanjuti Aduan Masyarakat

    April 10, 2026
    By Redaksi
  • Sejarah & Wisata Religi

    Pesona 3 Candi Terkenal Di Jawa Tengah, Suguhkan Keindahan Alam Dan Sejarah

    Juni 16, 2022
    By Redaksi
  • Sejarah & Wisata Religi

    Kisah Cerita Mistis Pernikahan Ki Buyut Beji Bersama Putri Alam Goib

    Januari 28, 2022
    By Redaksi
  • Sejarah & Wisata Religi

    Keramat Makam Mbah Wali Di Gunung Haruman

    April 8, 2023
    By Redaksi
  • Sejarah & Wisata Religi

    Gunung Karang Saksi Sejarah Yang Melegenda

    Januari 16, 2022
    By Redaksi

You may interested

  • TNI-POLRI

    Ditsamapta Polda Banten Gelar Upacara Pembaretan Bintara Remaja Angkatan 49 dan 53

  • Nasional

    Buka Pendidikan Sespimti dan Sespimen, Kapolri Minta Jangan Ada Kluster Baru Covid-19

  • Hukum

    Laporan Pengaduan Dugaan Korupsi (Lapdu)

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Links

  • Redaksi
  • Recent

  • Popular

  • Comments

  • Baeng LSM APKAN Minta BPK – RI Usut Tuntas Proyek Pembangunan Jalan Betonisasi Di Villa ...

    By Redaksi
    Mei 17, 2026
  • H.Iwan Tuding Proyek Pembangunan Turap Batu Kali Di Dekat Kantor Desa Kayu Bongkok Sumber Dari ...

    By Redaksi
    Mei 14, 2026
  • Camat Rajeg Perlu Kroscek Terkait Bangunan Gedung Kantor Desa Rajeg Mulya Terlihat Lesuh Dan Anggaran ...

    By Redaksi
    Mei 13, 2026
  • H.Iwan Tuding Pelaksana Pembangunan Jalan Paving Block di Kp Jembatan Papan Kiara Payung Abaikan Aturan ...

    By Redaksi
    Mei 10, 2026
  • Proyek Betonisasi Didesa Sangiang, Kecamatan Sepatan Timur, Diduga Surganya Kontraktor Nakal

    By Redaksi
    Juni 25, 2021
  • Minta Tak Abaikan Prokes,Covid-19 Amat Membahayakan Dan Nyata Adanya

    By Redaksi
    Juni 21, 2021
  • Curi HP di Toko Kerudung, Pria 37 Diringkus Polsek Cikupa Polresta Tangerang

    By Redaksi
    Juni 21, 2021
  • Sekretaris Umum DPP LBH LP-KPK’N : Ikut Serta Vaksinasi Yang Diadakan Kodim 0510 Tigaraksa

    By Redaksi
    Juni 25, 2021

Follow us

Photostream

    © Copyright jurnallbhlpkpkn.com jasa website Prima Desain. All rights reserved.