Mama Aku Ingin Pulang Yang Selalu Kurindu Kasih Sayangmu

245

 

Mama aku ingin pulang yang rindu sama keluarga tercinta,”Izinkan Siti berita kisah hidup yang pernah siti alami dikala itu. Sebetulnya siti juga terasa pegal jika tak diceritakan tentang kisah ini. “Siti adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan kami dari keluarga yang sangat sederhana, karena siti anak perempuan pertama dari kedua orangtua yang teramat sayang padaku, apapun permintaan yang di ajukan selalu mereka penuhi.

Sungguh bahagia dikala itu semuanya amat sayang mencintaiku termasuk keluarga dari ibu dan dari bapak dan khusus nenek dan kakek yang selalu memanjakanku seperti seorang putri, meski keluarga kami terbilang sederhana, tapi siti benar-benar disayang dan itu membuat siti manja dan ngelanjak juga, hidup benar-benar amat terasa milikku saja.

Mama aku ingi pulang kerumah kaerana dirumah tidak pernah melalakukan apa-apa, semua Ibu bener-bener mengerjakannya baik itu nyuci piring atau baju, bahkan baju siti dicuci sama adik perempuanku nomor 3 yang masih sekolah dikelas 8.

Ketika Siti tumbuh menjadi remaja yang sudah mengenal kehidupan pergaulan diluar dan tiap malam keluyuran bersama teman-teman sebayaku berpoya-poya menghabiskan uang yang tak karuan yakni duit dari jeri paya keringat kedua orangtuaku.

Saat malam itu ada lelaki yang mengajak kenalan, awalnya siti malu-malu gitu deh dan akhirnya kami jadian dengan lelaki itu, dan kami pacaran, ”Siti benar-benar melayang dibuatnya apalagi dia adalah lelaki yang banyak diidolakan gadis-gadis sepertiku, jadinya Siti benar-benar merasa bahagia karena telah berhasil memenangi hatinya.

Ketika itu Siti benar-benar dibutakan oleh cinta, kalau anak sekarang bilang BUCIN banget apa aja yang dia inginkan selalu siti penuhi dan untuk memenuhi itu, “Siti kadang benar-benar maksa kepada orangtuaku untuk mengadakan permintaan dia, sementara orangtua siti tidak mengetahui kalau semua permintaanku itu bukan untuk siti pakai, tapi untuk dia,“kenapa” agar dia makin cinta padaku dan tidak akan pernah berpaling diriku, ”Ya Allah, saat itu aku benar-benar tidak memikirkan orangtuaku, kala itu aku minta dibelikan handphon, Laptop, Gitar  Sepatu yang mahal, semuanya itu kuhadiahkan untuk dia, agar benar-benar mencintaiku.

Baca juga: Nasib Piluh yang dialami Seorang Ibu Demi Sang Anak

Sungguh dikala itu sangat bangga karena bisa menunjukkan ke teman-temanku bahwa Siti bisa pacaran dengan lelaki yang mereka idam-idamkan itu, meski beberapa orang temanku mewanti-wanti, bahwasannya itu hanya memanfaatkan Siti saja, tapi siti nggak peduli dengan hal itu, Siti bahkan menganggap mereka semua iri padaku.

Mama aku ingin pulang, hingga suatu saat kedua orangtuaku menanyakan padaku kemana semua barang-barang yang mereka berikan padaku itu yang tidak pernah nampak mereka lihat siti gunakan, “Nak mana semua barang-barang yang selalu kamu minta itu, kok gak pernah lihat tanya” orangtuaku, dengan nada lembut “ah Bapak,Ibu memberi banget, ya kalau udah dikasih ya udah,”nggak usah dicari cari kemana barang-barang Itu, itukan kewajiban kalian memenuhi kebutuhan siti,” jawabku Ketus.

“Ya nak, orangtua tahu “tapi kan setidaknya orangtua juga pengen melihat barang-barang itu gunakan, ingat nak barang-barang Itu semua mahal harganya. Orangtua susah payah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk menuruti semua keinginanmu Nak, zaman sekarang susah nyari uang Nak ,”ujar orangtu siti, haa Ibu enggak usah ngeluh deh kalian nyari uang itu juga buat siapa coba, buat anak juga kan, “Siti ini anak pertama bapak dan Ibu Jadi wajar jika kalian kerja untuk memenuhi kebutuhanku sebagai anak pertama,”ucapku masih ketus.

“Nak bener Apa kata bapak, Nak apalagi ayahmu sudah sering sakit-sakitan jadi kita harus hemat kebutuhan kita juga Nak,” ujar Ibu, ”Ah Bapak,Ibu sama aja, “udah ah pokoknya nggak mau tahu kebutuhan siti itu adalah kewajiban kalian, “ujarku sambil meninggalkan Bapak dan Ibu di ruang makan.

Hingga memasuki empat bulan kami masih terus berhubungan dengan lelaki itu dan model pacaran kami juga naudzubillah atau tidak elok dipandang, namun menurut agama siti itu sudah melebihi ambang batas, bahkan hingga terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan, karena mabok dibutakan oleh cintanya.

Ketika siti capek pacaran yang tiap harinya nongkrong hanya menghabiskan waktu dan uang, dan akhirnya siti minta dia untuk menikahiku, Siti tak ingin lagi melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah padahal Bapak dan Ibu ingin sekali melihat siti melanjutkan kuliah hukum karena di kampung masih sedikitnya menggeluti profesi ini.

“Alhamdulillah pacar siti mau bertanggung jawab meskipun katanya dia tidak punya uang untuk biaya pernikahan itu, kedua orangtua siti cukup kaget dengan hal itu, karena memang Ibu selalu menasehati siti untuk tidak dekat-dekat dengan dia karena menurut Ibu hanya memanfaatkan siti saja.

Mama aku ingin pulang, perkataan Ibu ini terbukti saat ingin menikah, sebut saja si Adam tidak punya uang sepeserpun, “katanya bahkan kedua orangtuanya pun tidak mau tahu dengan urusan anaknya artinya jika kamu mau menikah denganku, maka diminta untuk siapkan segalanya sendiri begitu,”kata si Adam di hadapan kedua orangtuaku.

Kulihat Bapak dan Ibu cukup stres menghadapi kenyataan itu, karena siti adalah anak pertama mana mungkin datang seorang lelaki ingin menikahiku tanpa sepeser uang ditangan, mau ditaruh dimana muka keluarga ku begitu alasannya bapakku, tapi siti sudah terbuka dan berbohong kepada bapak dan ibu, bahwa mereka harus menenerimanya sebagai menantu mereka bagaimanapun caranya, karena si Adam sudah menodai kehormatan ku dan padahal itu bohong, semua hanya ego siti saja. Mendengar hal itu kedua orangtua siti langsung syok dan Bapakku sampai jatuh sakit, tapi saat itu siti tidak peduli Pokoknya siti harus menikah dengan Adam titik.

Dengan membuang segala ego dan rasa malunya, akhirnya bapakku menikahkan siti dengan Adam dirumah. Orangtua lebih memilih menyelamatkan harga diri keluarga dibanding harus menundanya dengan alasan tidak ada untuk pesta dan siti juga gak jadi soal, mau ada pesta atau tidak yang penting dia sudah resmi menjadi suamiku dan tidak was-was lagi kehilangannya.

 Setelah menikah kami tinggal di rumah orangtua Adam sesuai permintaannya. Awalnya kami hidup bahagia sebagaimana pasangan baru pada umumnya tapi menjelang 4 bulan pernikahan, sifat Adam mulai berubah padaku, dan mulai ketahuan sifat sebenarnya. Adam mulai jarang pulang ke rumah kalau pulang selalu mabuk bahkan kudengar dia ada main gila dengan mantannya yang masih satu kampung dengannya.

Mertuaku juga sejak awal siti tinggal bersama mereka, mereka selalu menunjukkan ketidak senangan pada siti dan lebih-lebih ibu mertuaku, dia selalu membandingkan siti dengan menantu menantunya yang lain. Siti juga benar-benar diforsir dengan setumpuk pekerjaan dapur dan rumah yang selama ini tidak pernah siti kerjakan dirumahku, karena Ibu sangat sayang selalu memanjakan.

Suami ku ternyata temperamen dan ringan tangan kalo marah sumpah serapah keluar dari mulutnya kata-kata kotor tidak pernah lepas dari bibirnya, Ia juga tidak mau bekerja menafkahi siti sebagai istrinya dan dia masih bergantung pada kedua orangtuanya, akibatnya siti yang selalu kena sasaran kemarahan kedua orangtuanya.

Mama aku ingin pulang merasa benar-benar menyesal dan merasa bersalah pada kedua orangtuaku, karena sudah berani berbohong kepada Bapak dan Ibu, namun disisi lain siti malu jika curhat tentang masalah ini pada mereka, karena telah banyak menyusahkan bapak dan Ibu dan bahkan telah membuat bapak jatuh sakit hingga saat ini, ”Ibu maafkan Siti, maafkan Siti Pak, Siti  nyesal dan sangat menyesal Andai waktu bisa diputar kembali untuk memperbaiki segalanya. Siti akan menjadi anak yang penurut dan berbakti pada kalian, mama aku ingin pulang demi tuhan aku menyesal banget.

Sungguh penyesalan ini sangat-sangat sekali karena siti sudah membohongin kedua orangtua yang sebenarnya tidak dinodai kerhormatan siti melainkan ego yang tak mau dia dimiliki orang lain, Siti benar-benar lupa kalau orangtuaku hanyalah petani biasa dan Ibu hanyalah ibu rumah tangga dan sambil jualan nasi uduk yang kesehariannya dihabiskan melayani keluarga dan tiap malam dagang nasi uduk itu semua demi membantu beban Bapak.

Penyesalan yang kini terus menghantui perasaanku, teteasan air mataku tak terasa keluar, ”Siti benar-benar menyesal tak mengikuti kebenaran ucapan orangtua, mama aku ingin pulang rindu dengan kasih dan sayangmu, sungguh siti menyesal banget

Setiap malam siti merenungkan diri meneteskan air mata dengan kebodohan yang siti alami, terlebihnya sudah membohongi orangtua dan sanak saudara. Ya Allah ampuni semua dosa-dosa ku dan kedua orangtuaku, dan bukalah hatiku agar selalu bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada keluarga kami. Aamiin Ya Robbal’Alamiin.

Singkat cerita pernikahan yang sudah meranjak 6 bulan dan Akhirnya Siti pulang diwaktu larut malam, saat itu diperjalan kerumah tetesan air mata siti terus keluar, mama aku ingin pulang siti menyesal karena penyelesalan yang sudah membongi kedua orangtua dan sanak saudara.

Semoga kisah diatas menjadi pembelajaran buat anak-anak kita.

Terimakasih atas kunjungannya, dan jika berguna artikel ini silahkan bagikan, karena berbagi itu termasuk sedekah juga.

Author: A. Iwan Dahlani

 

 

Comments are closed.