Penjelasan Wirid Dalam Ilmu AL-HIKMAH

220

Dalam ilmu AL-HIKMAH tentang wirid, Silahkan baca sebanyak-banyaknya, karena itu untuk kekayaan akhirat. Wirid artinya adalah doa dan doa itu ibadah.

Namanya doa adalah ; Shalat, Shalawat, Tasbih, Tahmid, Dzikir, baca Al-Qur’an. Doa untuk kekayaaan akhirat, sedangkan Ibadah yang dibayar tunai itu adalah doa, sodakoh, sodakoh sunah jariyah fakir miskin, zakat, zakat fitra, nafkah anak istri, infak, memberikan nafkah kepada kedua orangtua yang miskin adalah wajib. Sedangkan kepada orangtua yang mampu adalah sunnah.

Maka kalau ingin kaya diakhirat ibadah ini harus diperbanyak. Kalau takut miskin, ingin kaya sungguh-sungguhlah dalam berusaha artinya kalau ingin ke surga takut ke neraka, maka bersungguh – sungguhlah dalam beribadah.

Tidak akan kaya usaha di dunia kalau tidak dibarengi dengan ilmunya, artinya dari ibadah tadi diambil barokahnya, kalau ingin manfaat dalam ilmu AL-HIKMAH.

Ulama mengetahui kelemahan kita, dikasih wiridpun tidak ingat sama Allah, apalagi tidak dikasih wirid.

Namun wirid dalam ilmu AL-HIKMAH diamalkan, karena wirid dan ngamal itu beda. Wirid adalah ucapan yang sertai dengan pelaksanaan. Kalimat amal itu berasal dari bahasa Arab yang artinya kerja.

Wiridan Dalam Ilmu AL-HIKMAH

Berikut wiridan Al-hikmah tingkat ke 1 bagian ke 1 yang berbunyi:

يا الله ياحي ياقيوم ياعضليم يارب العلمين

Artinya : Wahai Allah Wahai yang Maha Hidup Wahai yang Maha Berdiri Wahai yang Maha Agung Wahai Allah (Tuhan) Semesta Alam.

Adapun wiridan diatas adalah merupakan wiridan dalam ilmu AL-HIKMAH yang pertama pada tingkat ke – 1. Itu adalah judulnya atau nujulnya.

Wiridan tersebut berasal dari Rasulullah ke Annas bin Malik waktu menjadi Amilin di Negara yaman. Mulai turun Wiridan tersebut pada waktu Annas bin Malik diperintahkan menagih Zakat fitrah ke daerah Al-Maghrib; Setelah Annas bin Malik mendapat tugas yang berat.

Karna orang – orang di daerah Al-Maghrib banyak yang Jagoan, dan suka membangkang juga suka membuat Keonaran. Boleh dikatakan rawan Kriminal.

Dengan tantangan yang begitu berat itu Annas bin Malik tidak percaya diri, langsung dia mengadu pada Rasulullah “Ya Rasulullah bagaimana kalau saya di tolak atau saya mau di khianati oleh orang – orang itu? “Jawaban Rasulullah, “Kalau kamu mau di siksa orang atau mau di khianati orang dan mau di rusak. Baca : Ya Allahu ya Hayyu ya Qoyyumu ya Azdimu ya Robbal alamiin ” Kenapa di baca Ya Allahu? Itu adalah Ijima ulama, Tambahan para ulama. Tujuannya Allahumma. Asli dari Rasulullah : Ya Hayyu Ya Qoyyumu Ya Azdimu Ya Robbal alamin. Berhubung masalah Do’a, maka ditambah oleh para ulama Ya Allahu. Tujuannya Allahumma itu nuzul wiridnya.

Adapun untuk di Al – Hikmah, untuk menggunakannya secara dipraktekan atau sering difatwakan membacanya sesudah shalat 5 waktu. Kalau mewiridnya tolong wirid dulu 13 kali 7 malam berturut – turut, kalau pertamanya sesudah maghrib, 7 malam itu sudah magrib semua, kalau pertamanya sesudah isya’, 7 malam itu sesudah isya’ semua, begitulah seterusnya. Tidak boleh malam ini.

Sesudah maghrib dan malam besoknya sesudah isya’. Hal ini dapat dikatan batal. Dan harus diulang dari muali awal lagi.

Maka dari itu dianjurkan untuk mewirid dianjurkan memilih waktu yang senggang atau waktu panjang. Dalam ilmu AL-HIKMAH hal ini dianjurkan mewirid sesudah shalat Isya’, karena wakty shalat Isya’lah yang paling panjang.

Namun itu juga tergantung dengan kesempatan kita, kalau kita sempat Maghrib, boleh sesudah Maghrib, namun kalau kita sempat sesudah Isya boleh Sesudah Isya’,

Cara dalam ilmu AL-HIKMAH hal mewirid jika lupa misalnya sudah 5 malam berturut – turut atau 6 malam berturut – turut lalu untuk ke enam atau ketujuh malamnya lupa atau ketiduran, nah ini harus kembali dari awal lagi, boleh dikatakan batal.

Betigulah cara mewiridnya, kalau selesai 7 malam berturut – turut sebanyak 13 kali itu dianjurkan setiap saat atau waktu tergantung kemampuan kita.

Karena dari pada nganggur lebih baik wiridan itu lebih bagus, karena mewirid itu mendapat pahala disamping ilmu kuat atau baik, sama halnya dengan pepatah “sambil menyelam minum air”.

Kalau kita cuma mampu hanya satu kali itu tidak apa-apa. Malah tidak dibaca – bacapun tidak apa – apa, namun tidak dapat pahala.

Ketika baca sedikit tentu pahalanya sedikit, di baca banyak pahalanya juga tentu banyak, karena niat membaca wirid dalam ilmu AL-HIKMAH ini niatnya barokah dari ayat yang dibaca atau diwirid jika ingin ilmu manfaat.

Tahapan Wirid Dalam Ilmu AL-HIKMAH

Adapun untuk mewirid dapat dilakukan bertahap. Jika 13 kali kita merasa kependekan. Boleh dilanjutkan ke 33 kali, 101 kali, 1001 kali, proses mewiridnya sama halnya dengan di atas, 7 malam berturut – turut.

Kenapa diwiridnya hanya 13 kali, tidak langsung 101 kali atau 1001 kali. Begini kira – kira persamaannya, orang baru masuk AL- HIKMAH sama halnya perkembangannya bayi baru lahir.

Bayi yang baru lahir tidak langsung dikasih nasi yang bendolannya besar, sesuai dengan tingkat perkembangan dan umurnya. Pertama diberi air susu ibu, setelah itu diberi nestum, kemudian baru nasi.

Nah kita pun wirid kalau dikasih 13 kali masih kurang, ya tingkatkan ke 33 kali 7 malam berturut – turut, jika masih hobi lanjutkan lagi ke 101 kali, masih juga hobi mungkin karena anak santri, masih semangat maka tingkatkan lagi 1001 kali 7 malam berturut – turut.

Kalau Abah H. M. Syaki ( Almarhum ) perna berkata kepada Abah K.H. Iskandar HMS, “kalau kamu sudah mewirid Ya Allahu Ya Hayyu Ya Qoyyum Ya Azdimu Ya Robbal Alamin sebanyak 1001 kali 7 malam berturut – turut, Insya Allah besi tua, senjata api, senjata tajam termasuk nyamukpun tidak mau menggigit, “Alhamdullilah, memang pernah Abah menggunakan apa yang di tatwakan Abah itu Insya Allah.

Dan pernah Abah K.H. Iskandar HMS (Almarhum) menghimbau kepada ikhwan AL-HIKMAH “kalau belum mewirid sebanyak 1001 kali, jangan dulu banyak mengobati, karena apa? Si penyakit banyak yang lebih kuat itu masalanya.

Berdasarkan pengalaman Abah (Alm) baru dipegang tanganya persis disetrum listrik, itu saking hebatnya penyakit. Karena dikhwatirkan penyakit kembali kepada kita, kita punya tolak ukur, wajib menolong diri kita sendir praktek dalam ilmu AL-HIKMAH.

Baca juga:

Kisah Santri Pintar Yang Hilang Ilmunya Seketika Karena SU’UL ADAB

Itulah wiridan tingkat ke 1 bagian ayat ke 1 dan penjelasan dari guru-guru kita, semoga kita dapat mengikuti apa yang telah di izazahkan oleh guru kita, namun yang belum berizazah tidak bisa praktek dalam ilmu AL-HIKMAH.

Sumber: Al-hikmah Cabang Gintung

Comments are closed.