Cara Menggunakan Ilmu Al-Hikmah, Ayat ke -1 Bagian Ke – 1

161

Kalau masalah cara menggunakan ilmu Al-Hikmah, wiridan harus dibaca sesudah shalat, namun waktu menggukannya, tidak perlu membaca lagi cukup diniatkan dengan bahasa kita.

Adapun penggunaannya wirid pertama adalah untuk penutup “Contohnya, orang kena bacok atau kena senjata tajam keluar darah, hal ini bisa kita tutup dengan wiridan yang pertama tadi.

Caranya kita baca wiridan pertama Ya Hayyu Ya Qoyyumu Ya Azdimu Ya Robbal Alamiin, cara menggunakan ilmu Al-Hikmah perut kencangkan dan tangan tempelkan menutup luka yang keluar darah, waktu membaca jangan bernapas, karena kalau bernapas tetap darah tersedot keluar lagi, keluar lagi.

Kalau kita yakin dan khusu “kepada Allah, tidak napas itu Insya Allah luka itu rapat lagi, namun kadang-kadang kita bimbang dan ragu-ragu, namun sudah tidak keluar darah lagi lumayan.

Selain itu ada contoh lain, orang mau cabut golok, nah sebelum dia mencabut kalau kita tahu maumengancam kita, kita sebut “rapat” atau sebut “jangan bisa” dengan bahasa kita masing-masing juga bisa kita niatkan dan sambil kencangkan perut, cara menggunakan ilmu Al-Hikmah dalam hal ini yang kerja tetap wiridan ke 1 bagian ke 1 tadi.

Selanjutnya bisa kita pergunakan dengan hujan. Misalnya kalau kita mau selamatan atau hajatan, dimana hujan supaya dihindarkan dulu. Juga bisa kita gunakan dengan orang yang lagi ngomelin kita, marah dengan kita, siapa saja sekarang kita tutup saja “jangan bisa ngomong” mungkin dia tidak bisa ngomong keras atau kasar dan akan lembut.

Oleh karena itu dianjurkan setiap sudah shalat, baca tergantung kemampuan. Karena waktu menggunakan tidak perlu membaca lagi, tinggal kita pasang niat sesuai dengan masalah yang sedang kita hadapi.

Cara menggunakan ilmu Al-Hikmah sama halnya dengan kita menggunakan golok, kita bisa menggunakan waktu itu juga. Nah bagaimana supaya goloknya lebih tajam, tentunya kita asah duluh.

Cara mengasahnya kita memilih waktu yang senggang karena kalau waktu menggunakan baru mau mengasah, tidak sempat lagi digunakan, bisa kita gunakan duluan.

Begitu juga halnya dengan Al – Hikmah, cara mengasahnya adalah dengan mewirid tergantung kemampuan. Pilih waktu senggang, karena waktu menggunakan tidak perlu baca atau wirid lagi, tinggal kita niatkan. Kalau seandainya akan mau baca dulu, kapan kita menggunakannya.

Kemudian bisa juga dengan pasangan kalau pasangan rewel misalnya dia lagi ngomelin kita, hal ini bisa dihentikan “diam kau” Insya Allah pasangan kita akan diam. Cara ini untuk menjaga maslahat, dari pada dia disentil karena tidak baik cukup seperti itu karena lebih baik dia diam.

Adapun untuk menggunakan dengan pasangan atau dengan keluarga, jangan lama-lama karena kalau dia tidak mau sadar dalam beberapa menit, tetap dia tidak bisa ngomong tapi kalau dia cepat sadar Insya Allah dia bisa ngomong kembali. Dalam 1 menit kalau dia sadar langsung bisa ngomong.

Contoh tersebut diatas pernah saya (Alm) (K.H.Iskandar HMS) alami, namun orangnya sudah meninggal. Dulu dia pernah menjabat ketua umum Yayasan Al-Hikmah, Nama Letkol Hanafi, dia punya istri lumayan galaknya, marah dengan 1 orang semua kesebor, termasuk say yang lagi menamu.

Kalau dia pulang dari kantor pembantunya lagi ada kesalahan semua kena omelan dan kesebor, kenapa? Karena dia sambil menyiram kembang dan bermacam-macam yang bisa diomelin, termasuk saya menamu ikut tersebor.

Setelah saya pulang “saya bisikan dengan Pak Hanafi “Pak ! Kalau dia masih ngomel tutup saja, jangan bisa ngomong, “kemudian terulang kembali setelah dia pulang dari kantor, langsung di tutup oleh suaminya dan ketika itu juga suaranya berubah seperti suara kucing sedang berkelahi, akhirnya dia malu sendiri.

Jadi antara napsu dengan Ilmu, hasilnya berdenga-denguh saja, hal ini menjadikan dia supaya sadar dan insyaf dari egois dan emosionalnya yang tinggi itu. Karena tidak mau berhenti kalau tidak disadarkan seperti itu. Pada waktu dia lambat sadar bilang saja “sadar, sadar, sadar” Insya Allah dia sadar bisa ngomong kembali.

Contoh lainnya misalnya dengan pimpinan, pengalaman kerja antara pimpinan dengan bawahan. Kalau pimpinan jangankan pimpinan itu benar dia salahpun kalau mau marah, ya marah saja, tapi kalau kita lawan tak ada menangnya.

Nah supaya dapat mengantisipasi amarahnya itu kita gunakan Ilmu, hal ini bisa dibilang cara goib namanya, kalau dia lagi marah niatkan saja, “jangang bisa ngomong” sambil kencangkan perut. Insya Allah pimpinan tersebut tidak bisa lagi. Jadi dia selamat kita selamat.

Nah ini baru Al-Hikmah karena sering saya fatwakan belum termasuk Al-Hikmah kalau belum bisa menyelamatkan musuh. Belum termasuk orang Al-Hikmah kalau belum bisa menyelamatkan musuh.

Kalau musuh bisa diselamatkan ini baru Ilmu Al-Hikmah dan baru orang Al-Hikmah. Namun kebanyakan tujuan ilmu itu hindar serang kita menangkis serangan musuh kemudian kita lancarkan serangan.

Namun Al-Hikmah hanya mengantisipasi berbagai jenis serangan. Kalau kita sudah selamat tidak perlu lagi berbalik menyerang. Karena kalau kita mengadakan serangan urusannya lebih panjang. Rumah sakit, penjarah, kuburan, kalau kita menyerang musuh cidera, berkemungkinan dapat sanksi sesuai undang-undang yang berlaku. Jadi tidak ada untungannya kalau kita sudah selamat dia selamat cukup.

Jadi fungsi wiridan pertama pada tingkat ke – 1 cara menggunakan ilmu Al-Hikmah gunanya untuk menutup. Demikian penjelasan penggunakannya, semuanya hanya atas izin Allah.

Baca juga:

Mengenal Apa Itu AL-HIKMAH, Berikut Lengkapnya…

Izinkan kami mohon maaf bila ada kata-kata ataupun tulisan diatas tidak baik ataupun kurang berkenan. Terimakasih. By Al – Hikmah Cabang Gintung, Desa Kosambi, Sukadiri Tangerang Banten.

Comments are closed.