Segudang Pesona Gunung Burangrang, Dan Cerita Mitos Pendaki

77

Bandung – Jawa Barat, kota Bandung ini dengan berbagai macam magnet wisata ada didalamnya, mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata budaya, hingga wisata alamnya pesona gunung burangrang

Bandung dikelilingi pegunungan yang terdiri dari Pegunungan Malabar, Pegunungan Patuha, dan Pegunungan Sunda Purba. Salah satu dari rangkaian Pegunungan Sunda Purba adalah gunung burangrang. Gunung ini terbentuk dari letusan dahsyat Gunung Sunda Purba yang meletus jutaan tahun yang lalu.

Akibat dari letusan tersebut maka terbentuklah beberapa gunung salah satunya gunung burangrang. Gunung-gunung lainnya yang terbentuk antara lain Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Bukit Tunggul, dan Gunung Manglayang.

Keindahan Pesona Alam Gunung Burangrang

Gunung burangrang merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati keindahan alam Bandung dari ketinggian, tidak kalah dari, Bukit Gantole Cililin, Bukit Bintang, dan lainnya yang juga memiliki nama. sebelum Anda mendaki gunungnya saja, sudah bisa menikmati keindahan kota Bandung bahkan dari jarak jauh.

Pesona gunung burangrang, setiap Anda melangkakan kali (berjalan) sedikit ke balik perbukitan, Anda akan dibuat terpesona dengan melihat keindahan dari Gunung Tangkuban Perahu yang namanya sudah tersohor. Gunung tersebut dibingkai dengan kawasan hijau menghampar dari kebun teh di Bandung, membuatnya mampu menyejukkan mata.

Penglihatan Anda akan disapa dengan wisata danau di Bandung Barat yang sangat terkenal yaitu Situ Lembang. Semua eksotisme yang disuguhkan ini bisa dilihat sejak Anda mulai mendaki gunung burangrang hingga sampai di puncak.

Sejarah Gunung Burangrang

Gunung burangrang yang mana disana terdapat makam -makam Panembahan Adipati kerajaan Mataram ,yang melarikan diri pada penjajahan Belanda dan bersembunyi dikaki bukit gunung burangrang.

Gunung burangrang merupakan sebuah gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi yang memiliki ketinggian sekitar 2.050 meter di atas permukaan laut yang terletak di Bandung Utara, Jawa Barat.

Secara administratif, gunung burangrang terletak di antara dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta.

Dibalik keindahan alam yang disuguhkan, pesona gunung burangrang sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Mitos Gunung Burangrang yang Tidak Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah

Mitos keangkeran gunung burangrang sudah lama terkenal masyarakat Jawa Barat., konon apabila ada pesawat ataupun burung melewati diatas makam tersebut akan jatuh.

Gunung burangrang yang satu ini masih belum bisa dijelaskan penyebabnya. Setiap pesawat yang melintas di atas gunung burangrang tepatnya di atas makam-makam para tentara Mataram, pesawat akan jatuh tanpa sebab.

Pesawat yang tercatat pernah jatuh adalah helikopter milik Departemen Kehutanan, pesawat Cessna 172 milik Nusa Flying International, dan pesawat lainnya.

Namun keanehan yang terjadi bukan sampai di sana saja. Menurut penuturan warga setempat, cuaca saat dilakukan pencarian pesawat yang jatuh selalu sama yaitu gelap, mendung, hujan dan ditutupi kabut seolah-olah sengaja untuk menghambat para pencari.

Kejadian Aneh Dan Menyeramkan yang Dialami Para Pendaki

Tak jarang banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa para pendaki bahkan ada juga larangan-larangan atau pantangan saat mendaki gunung. Terkadang kejadian aneh terjadi diluar akal sehat manusia sehingga sering dikaitkan dengan hal-hal mistis

Kejadian menyeramkan gunung burangrang yang satu ini sudah sering dialami oleh para pendaki bahkan tak jarang penduduk sekitar mengaku pernah mengalaminya. Para pendaki sering diganggu oleh makhluk halus yang memanggil-manggil nama pendaki dengan berulang-ulang.

Ada juga yang katanya pernah melihat sesosok perempuan dengan baju putih terbang di atas pohon-pohon. Terkadang juga ada suara-suara seperti binatang buas yang melengking dan terdengar mengerikan menemani perjalanan para pendaki. Yang diantaranya sebagai berikut:

1. Ketika para pendaki sedang istirahat,
dan sambil menikmati secangkir kopi hanget, untuk pulihkan stamina. Namun ada yang teriak lantang salah satu pendaksi senior.

2. Kemudian tak lama setelah beristirahat, para pendaksi senior merapatkan barisan, dan pendaki itupun berdialog, setalah selesai dialog akhirnya memutuskan untuk turun kembali ke basecamp, mengurungkan niatnya untuk tidak jadi melanjutkan pendakian ke puncak gunung burangrang.

3. Sebagai pendaki jenior hanya bisa mengikuti perintah dan patuh dengan apa yang diinstruksikan senior, karena senior sudah tau pahit dan manisnya tentang pendakian.

4. Namun rasa kecewa sempat timbul dalam benak, karena tidak bisa melanjutkan pendakian ke puncak gunung burangrang, atau dengan kata lain para pendaki junior bisa disebut gagal menyempurnakan pendidikan karena kurang memenuhi syarat. Tetapi ya sudahlah, pikirku mereka yang lebih tahu tentang kondisi saat itu.

5. Dengan segala pertimbangan, pada akhirnya pendaki memutuskan untuk kembali ke basecamp dan tidak melanjutkan pendakian, untuk yang ingin bertanya nanti kita akan jelaskan apa alasannya di basecamp,” kata Senior (pembina pendaki).

Namun tidak lama berselang, hal aneh mulai terjadi saat pendaki hendak kembali ke basecamp. Kabut putih turun secara tiba-tiba hingga pendaki hanya memiliki jarak pandang yang terbatas, tak lebih dari kurang lebih lima meter.

Justru yang anehnya lagi, saat pendaki turun, namun menjadi terasa amat sangat lama dan jaraknya menjadi lebih jauh. Kalau secara logika waktu tempuh untuk turun seharusnya lebih cepat dari pada pendakian, tapi pada waktu itu hanya berpikir pada kondisi tubuh sudah terlalu lelah, karena perjalanan menjadi terasa sangat lama.

Karena tubuh sudah terlalu lelah, dan pada akhirnya, pendaki merasa senang sesaat, kala mendengar suara alunan gamelan dan musik khas tradisional. Terlintas dalam benak kala itu adalah, rombongan sudah mulai dekat dan memasuki areal perkampungan.

Namun tak disangka-sangka, lebih dari dua jam sudah pendaki berjalan malahan tidak kunjung melihat perkampungan, karena yang sempat terbersit dipikiran pada malam itu masyarakat setempat (warga gunung burangrang) yang sedang ada pesta pernikahan (hajatan).

Sehingga muncul dalam benak pendaki, bulu kuduk mulai merinding, rasa cemas meningkat drastis. Pendaki tak lagi saling berbicara, hanya dapat saling menatap penuh tanya. Lalu apa, dan dari mana suara musik alunan gamelan tradisional, yang pendaki dengar tadi?

Pendaki berpikir mulai jernih, mana mungkin didalam hutan belantara ini ada orang berpesta seperti melangsungkan hajatan, terlebih dalam kondisi malam sudah sangat larut.

Pendaki terus maju melangkah dengan segudang rasa cemas, sambil berteriak-teriak memanggil rekan-rekan yang sedang bertugas menjaga tenda di basecamp, tapi anehnya tak ada satupun balasan ataupun respons dari penunggu basecamp.

Setelah pendaki terus berjalan walaupun rasa cemas itu menghantui pendaki, akhirnya terdengar oleh pendaki ada suara Azdan. Secara bertahap kabut- kabut itu mengilang,dan sampailah ke basecamp.

Baca juga: Cerita Misteri gunung salak bogor bikin bulu kuduk merinding

Puncak Tugu Burangrang

Puncak gunung burangrang, terdapat tugu burangrang sebagai penanda bahwa pendaki sedang berada di puncak dengan ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut. Tak jarang tugu burangrang ini menjadi salah satu spot foto bagi pendaki atau peserta pendidikan dan latihan dasar dari komunitas pencinta alam.

Didalam pendakian menuju puncak gunung burangrang terdapat beberapa jalur pendakian tetapi yang disarankan hanya dua jalur pendakian menuju puncak gunung burangrang antara lain :

1. Via Jalur Komando

Bagi Anda yang ingin melakukan pendakian via Jalur Komando dipastikan mendaftarkan terlebih dahulu di Pos Komando agar mendapat izin untuk melewati jalur tersebut, karena jalur komando sering dijadikan area pelatihan anggota TNI.

Treck pendakian di jalur ini cukup landai dan jarak tempuhnya lebih jauh dibandingkan melalui Jalur Legok Haji. Kelebihan dari Jalur ini memiliki hutan pinus juga pemandangan alam yang begitu indah yang siap menyambut semangat para pendaki.

2. Via Jalur Legok Haji

Untuk Anda pendaki yang ingin melakukan pendakian via Jalur Legok Haji yang berada di Desa Tugumukti dan merupakan pintu masuk Wisata Curug Cipalasari sebagai barometer awal pendakian Gunung Burangrang. Di lokasi ini sudah terkelola dengan baik oleh warga setempat. Juga tersedia Pos Penitipan Motor. dan untuk jalur ini memang terbilang sangat ekstrim dengan kemiringan sudut pendakian yang mencapai 60 – 70 derajat, dan kontur tanah yang licin, dan banyak akar di ketinggian 1450 mdpl sampai puncak.

 

Terimakasih
Author : A Iwan Dahlani

Comments are closed.